Kamis, 11 Februari 2016

LGBT




aku ga ngerti begitu banyak komentar menyudutkan LGBT
yang bilang kurang iman lah, berdosa lah, sakit jiwa lah
mereka yang masuk golongan LGBT itu dalam lubuk hati mereka yang terdalam itu sebenarnya ga mau lho begitu, tapi gimana, mereka masuk perangkap fisik yang 'salah' atau kurang pas


Kenapa kubilang kurang pas? 
ya karena mereka tidak menghendaki terlahir sebagai manusia begitu,
sama seperti halnya kita terlahir tidak bisa memilih orang tua kita, atau agama orang tua kita, atau negara orang tua kita, semua sudah 'dipilihkan' atau bisa jadi kita sendiri yang memilihnya sebelum kita turun ke dunia ini menjadi manusia


Jenis LGBT ini memiliki kelainan hormon yang seharusnya cenderung lebih banyak sesuai dengan fisik yang ditempatinya, misalnya bila fisik lelaki harus memiliki hormon maskulin lebih banyak daripada feminin nya, sebaliknya begitu, fisik perempuan harus memiliki hormon feminin lebih banyak dibanding maskulinnya. Makanya sering kita lihat perempuan banyak yang tomboy tampilannya seperti lelaki dan tertariknya sama perempuan yang feminin. Begitu juga sebaliknya lelaki juga begitu, banyak lelaki kemayu manja tampilannya seperti perempuan dan tertariknya sama lelaki yang macho.

Tidak berbeda dengan para perempuan biasa yang seneng liat lawan jenisnya, begitu juga sebaliknya. Itu semua mainnya di hormon. Namanya hormon Testosteron untuk laki-laki yang mempengaruhi rangsangan seksual. Sedangkan hormon Esterogen untuk perempuan yang mempengaruhi pertumbuhan payudara.

Jadi kalau seorang janin memiliki kandungan hormon esterogen lebih banyak, harusnya dia lahir sebagai bayi perempuan, tapi kalau dia lahir sebagai bayi laki-laki, nah itu bukan salah bunda mengandung, tapi itu salah penciptanya. Bikin manusia kok sambil ngobrol. Ini bukan main-main, coy. Ini seriusan. Nah hasil tidak fokus mencipta ini, anak tetap bertumbuh besar. Dia merasakan ada yang janggal dengan tubuhnya. Badan lelaki, hormon androgennya aktif seperti biasa, membentuk badan lelaki, tumbuh kumis dan jenggot, tapi duh kok payudara seperti perempuan nih, ga lucu abis kan? Ternyata hormon esterogennya lebih banyak. Salah satu cara untuk menutupi membesarnya payudara ya badan digendutin atau latihan keras nge-gym untuk membentuk badan. Tapi yaolo, apa mau dikata, mata dia berbinar-binar saat melihat cowoq ganteng lewat di depannya. Ya, dia hanya tertarik pada pria.

Lalu apa dia salah, ketika kemudian ada isu di sekitarnya yang mengatakan kelainan seks ini adalah karena lemah iman, kesurupan setan, sakit jiwa bahkan sebagai pendosa yang layak dihukum mati. Eh tolong, kalau bicara mati, mungkin sejak dia menyadari kelainan pada tubuhnya dia juga rasanya lebih baik mati.

Lalu, apakah pantas kita sebagai manusia yang memiliki kesadaran spiritual tentang hidup juga menghukum dan menghakimi mereka hanya karena error penciptaan?

Mungkin juga Sang Pencipta sengaja menciptakan mereka untuk membuka mata hati kita bahwa ini bukanlah penciptaan yang error, tapi kesengajaan untuk membuka pemahaman manusia atas pola pikir dualitas, baik dan buruk, salah dan benar, laki dan perempuan, ganteng dan cantik dan dualitas-dualitas lainnya.

Agar kita juga membuka mata hati bahwa fisik bukanlah hal mutlak bagi jiwa-jiwa yang menempatinya. Bukankah kita semua sedang menghadapi era Jaman Baru di mana kita mulai melangkah menuju pemikiran baru, pemahaman baru, keyakinan baru, pandangan baru, di mana bisa saja semua hal yang pernah kita kenal, yang pernah kita tahu, yang pernah kita paham, yang pernah kita percaya, yang pernah kita yakini adalah hal usang yang harus kita perbaharui?

Kita semua sedang menuju Cahaya, bukan?
Kalau semua fisik tiada dan hanya ada Cahaya, apakah anda semua mengenali Cahaya-Cahaya itu sebagai Cahaya yang memiliki kelamin? Apakah anda mengenali mana Cahaya lelaki dan mana Cahaya perempuan? Yang akan anda kenali hanya Cahaya yang bersinar, yang mengenal satu sama lain sebagai jiwa-jiwa yang dulunya selalu berbagi cinta, kasih, sayang dan kedamaian.


Jadi, please, kakak-kakak, adik-adik, bapak-bapak, ibu-ibu, om dan tante yang masih menghakimi kaum LGBT ini, apakah kalian semua sudah sempurna dan yakin bakal jadi Cahaya bila saatnya nanti fisik akan meninggalkan kita semua? Apakah yakin Cahayanya akan bersinar karena berbagi cinta, kasih, sayang dan damai atau sebaliknya sebagai sebatang korek api yang redup?

Mungkin kita semua lebih baik fokus pada kebaikan untuk diri sendiri lebih dulu daripada menilai atau menghakimi orang lain terlebih lagi menyakiti perasaan orang lain yang bahkan tidak anda kenal sedikitpun. Fokuslah pada perkembangan spiritual kita, berusahalah untuk melakukan kebaikan setiap waktu, setiap hari untuk meningkatkan getaran kita lebih tinggi.

Pssstt..... bukan tidak mungkin, kaum LGBT seperti yang anda hakimi itu adalah Dewa-Dewi yang menyusup masuk ke tubuh fisik dan hadir di antara kehidupan kalian hanya untuk mengukur kadar keimanan kalian pada Sang Pencipta Segala Sesuatu.

Bagi Sang Pencipta, apa sih yang tidak bisa Dia lakukan. Menciptakan manusia berkepala kodok-pun bisa. Apa lantas anda mencaci dia hanya karena Sang Pencipta yang punya kehendak? Maka, kalau anda merasa sebagai manusia yang memiliki iman melebihi siapapun, berimanlah pada Sang Pencipta yang bisa mencipta apa saja melebihi apa yang tidak pernah anda pikirkan.

Mikir aaahhhh.....
jangan sampai usia anda sudah di penghujung ternyata anda masih dangkal berpikir

ehhhh......