Sabtu, 12 September 2015

TRIAD DEWI ARAB


TRIAD DEWI ARAB

Jauh sebelum Islam ada, para Sabean di Arabia menyembah Dewa Bulan yang juga dikenal Ilumquh. Ilumquh menikah dengan Dewi Matahari, Dhat Hamym dan memiliki tiga anak perempuan di mana di daerah itu masyarakatnya mulai menyembah. Tiga anak perempuan itu bernama Al-Lat, Al-Uzza dan Al-Manat. Tiga dewi ini bergabung dan mereka membentuk triad tiga dewi, seperti halnya banyak dewi lainnya di Bulan.

Ibadah sebelum Islam yang paling utama dikaitkan adalah dengan Dewi Al-Lat, yang berarti 'Dewi'. Dia adalah satu dari tiga dewi yang mirip dengan Dewa Yunani Lunar Kore/Demeter/Hecate. Setiap aspek dari trinitas ini sesuai dengan fase Bulan. Dengan cara yang sama Al-Lat memiliki tiga nama yang dikenal dengan Q're atau Bulan Sabit atau Sang Perawan. Al-Uzza secara harfiahnya berarti 'Maha Perkasa', Bulan Purnama dan aspek feminin/ibu. Dan Al-Manat, berarti Dewi Kegelapan tapi Penentu Takdir yang bijaksana, Nubuat dan Ramalan. Tradisi di dalam Islam secara terus menerus mengenal ketiga label mereka sebagai 'anak perempuan Allah'

Al-Lat dikenal sebagai Dewi Musim Semi dan Kesuburan. Di bawah Hellenization, Al-Lat diidentifikasikan dalam budaya Yunani sebagai Dewi Romawi Athena/Minerva dan kadang dikaitkan dengan Aphrodite atau Urania/Venus Caelistis. Disebutkan prasasti Al-Lat berada dikisaran dari Hegra di Arab Saudi sampai Hauran di Suriah. Mereka termasuk yang dihormati dan dipuja sampai masa Islam berlangsung. Bahkan pada pendirian Islam, gambar Al-Lat ada bersama dengan salah satu dari mereka, Al-Uzza.

Dewi Al Uzza, Al Lat dan Al Manat membentuk triad di pra Islam di Arab. Mereka banyak disembah dari Nabatian Petra di Utara mulai Kerajaan Felix Arabia di Selatan, termasuk Saba, dalam Bible adalah Sheba, sampai jauh ke Timur seperti Iran dan Palmyra. Tiga Dewi ini sangat populer di Mekah pada saat jamannya Muhammad.  Dari kiri ke kanan, mereka adalah Al Uzza yang artinya Maha Perkasa, Dewi Bintang Fajar, Al Lat yang artinya Ibu, Dewi, dikenal dengan sebutan Al-Lah atau Allah, dan AL Manat, Dewi Penguasa Takdir atau Waktu. Kadanag mereka bertiga disebut sebagai anak-anak perempuan Al-Lah; kadang Al Manat dan Al-lat dianggap sebagai anak Al Uzza.

Al-Uzza; Maha Perkasa, adalah salah satu Dewa Arab yang paling dihormati, Dewi Bintang Fajar, Venus. Dia memiliki sebuah kuil di Petra, dan kemungkinan dia juga sebagai Dewi pelindung kota itu. Isaac dari Antiokhia, seorang penulis abad ke 5, menyebutnya sebagai Beltis atau Lady, sebutan yang sama bagi banyak Dewi semit lainnya, dan Kaukabta, yang artinya bintang. Dia juga mengatakan bahwa para perempuan di kota itu menyebutkan namanya di atas atap sebagai bentuk ibadah pemujaan sebagai Dewi Bintang. St. Epifanius dari abad ke 4 Masehi menyebutkan bahwa dia juga sebagai Ibu Dusares, gunung lokal Allah, dan menyebut dengan nama Chaamu atau Chalmous yang artinya gadis muda atau perawan. Dia memiliki hubungan dengan pohon akasia di mana diyakini masyarakat melalui tiga pohon ini mereka turun/desend dan juga merupakan tempat perlindungannya. Dia memiliki banyak kesamaannya dengan Ishtar dan Astarte yang memiliki julukan sama sebagai Bintang Pagi dan Sore atau Kejora, Venus, dan mereka semua memiliki aspek yang sama juga yaitu Dewi Cinta dan Dewi Perang. Kucing besar adalah kucing suci bagi mereka. Penampilan dia di sini dipersenjatai sebagai Bellatrix yang berdiri di depan pohon akasia, dengan Caracal atau gurun Lynx. Dia dikaitkan dengan orang-orang Yunani, sebagai Aphrodite Urania atau Aphrodite Surgawi.

Al-Lat, nama ini kontraksi dari nama Al-Illahat, atau Allah, yang artinya Dewi, disebutkan oleh Herodotus sebagai Alilat, yang identifikasikan dengan Aphrodite. Kadang dia juga disamakan dengan Athena, dan disebut juga sebagai Ibunya para Dewa atau Maha Besar. Dia adalah Dewi Musim Semi atau Kesuburan, Dewi Bumi yang membawa kemakmuran. Dia dan Al Uzza kadang membingungkan, satunya populer dan satunya kurang populer. Matahari di Saudi disebut Shams dan dianggap feminin, ini mewakili satu aspek dari Al-Lat. Dia memiliki tempat perlindungan di kota Thaif sebelah Timur Mekkah, dan di kenal dari Saudi sampai ke Iran. Simbolnya adalah Bulan sabit (kadang digambarkan sebagai pertemuan Matahari dan Bulan dan membentuk sabit, dan kalung emas yang dikenakannya adalah liontin yang menidentifikasinya. Sebagai Dewi Kesuburan dia menggengam setumpuk gandum, dan di tangannya dia memegang sepotong kecil kemenyan, lambang yang selalu tertera pada banyak penyangga dupa.

Al Manat atau Manawayat nama yang berasal dari bahasa Arab Maniya yang artinya takdir, kehancuran, kiamat, kematian atau Menata yang artinya bagian, yang dibagikan. Dia adalah Dewa yang sangat kuno kultusnya, kemungkinan mendahului kedua lainnya, AL Uzza dan Al Lat. Kultusnya menyebar luas, dia sangat dipuja sebagai batu hitam di Quidad, dekat Mekkah. Batu hitam ini ditemukan di Kuil Aphrodite dekat Paphos, Cyprus. Muhammad mendedikasikan kembali batu hitam berada di Kabah, Mekkah. Al Manat dihubungkan dengan ziarah besar sebagai titik awal perlindungannya bagi beberapa suku. Dia diketahui dari yang tertulis pada prasasti Nabatean, dan makam yang ditempatkan di bawah perlindungannya dan meminta untuk mengutuk bagi yang melanggar. Dia ini sesuai disebut sebagai Dewi Kematian, Maniya yang dipersonafikasikan sebagai Kematian, ini disebutkan di dalam puisi aktif yang dibawa seseorang ke makamnya dengan mengulurkan cangkir kematian. Dia digambarkan sebagai seorang wanita tua dengan cangkir,dan simbol-simbol di bagian bawah gaunnya mengeja namanya menurut Sabaic (yang tidak menggunakan vocal dan ditulis dari kanan ke kiri), M-n-t. Memudarnya Bulan digambarkan di atas kepalanya sebagai simbol Dewi Penguasa Kematian.

Yang kurang dikenal adalah pohon Akasia, atau sekelompok pohon Akasia, ini adalah simbol dari Al Uzza, Dewi Arab simbol kelahiran, kematian, pernikahan, perang, penyerangan, Zodiac, perubahan musim ke musim, tentu saja juga benda-benda di langit, Venus sebagai Bintang Fajar, Hijau warna sucinya, dan diadopsi Islam sebagai warna favorit khusus lambang Islam. Meteorit, misalnya, seperti batu hitam di Kabah (kubus) adalah batu sucinya. Al Uzza menerima penawaran atas darah sebagai pengorbanan manusia dan hewan. Akasia, seperti yang tadi baru dijelaskan, itu juga adalah pohon sucinya. Di bawah pohon Akasia para sahabat Muhammad mengambil janji kesetiaan sebelum penandatanganan Perjanjian Hudaibiya, perjanjian yang membawa kemenangan politik di seluruh Arabia.

Akasia adalah salah satu simbol utama Freemasonry, seperti diakui di dalam "Moral dan Dogma" oleh Albert Pike. Setangkai Akasia memainkan bagian penting di dalam ritual derajat ketiga, setangkai Akasia kadang diletakkan di kuburan atau di peti mati di pemakaman Masonik dan juga terlihat pada gelar Cordon 14. Sebagai salah satu fakta, di mana Masonry mengklaim telah meminjam sebagian besar pencitraannya, duri Akasia sebagai simbol kelahiran dan kematian Ibu Dewi Neith. Dalam Perjanjian Lama, Masonry juga memelintir banyak untuk menambah dekorasi Temple-Temple. Dikatakan, Akasia telah digunakan dalam pembangunan Tabernakel dari Perjanjian Ark. Beberapa Freemason juga mengklaim bahwa mahkota yang dikenakan pada Yesus Kristus pada penyalibannya terbuat dari duri Akasia dan salibnya dari kayu Akasia, sebagai bagian dari upaya aneh untuk 'membuktikan' bahwa Yesus Kristus sendiri adalah seorang "Freemason Terkenal"



dari berbagai sumber