Selasa, 07 Februari 2012

Romo Handoyo Lukman, MSC Master “Kumparan” dari Purworejo



Romo Handoyo Lukman, MSC 

Master “Kumparan” dari Purworejo

Alamat resmi pengelola praktik pengobatan alternatif metode radhiestesi
Pengobatan Romo Loogman, Jl. Sudirman 9, Purworejo, 
Kedu 54114, Jawa Tengah.


ROMO H. HANDOYO LUKMAN MSC

Nama kecil Romo adalah : Hendrikus Loogman, dan setelah menjadi WNI tahun 1981, mengganti namanya menjadi H. Handoyo Lukman MSC. 
Terlahir sebagai putra ke 10 dari 13 anak hasil perkimpoian Antonius Loogman dengan Digna Berkel. 
Romo ditahbiskan menjadi imam Katolik pada tanggal 1 September 1963 . 
Pada tahun 1965 bertugas di Purwokerto, 
tahun 1968 - 1972 bertugas di Pekalongan, 
1972 - 1974 bertugas di Tegal dan 
tahun 1974 sampai sekarang bertugas di Purworejo. 
Saat kecil Romo tumbuh di lingkungan pertanian dan peternakan sehingga tak heran kalau begitu mencintai kehidupan alam sebagaimana didikan orangtuanya. 
Sejak dulu Romo sudah terbiasa memanfaatkan kekayaan alam dengan tanam-tanaman yang ada di sekitarnya untuk mengobati hewan, disamping mempergunakannya sebagai jamu untuk kesehatan. 
Pengetahuan / pengalaman Romo, dibidang kesehatan / pengobatan semakin berkembang setelah beliau memperdalam ilmu bandul / Radiestesi, yang dipelajarinya di pulau Jawa, Indonesia. 

Sejak tahun 1974 Romo menetap di Purworejo. Disamping kesibukan sebagai seorang Imam Katolik, Romopun menyempatkan diri memberikan pelayanan kesehatan. Dari waktu ke waktu pelayanan kesehatan ini semakin berkembang, yang akhirnya membawa Romo kepada satu kerjasama dengan dokter Medis. Para dokter ini telah memantau dan mengikuti sendiri praktek serta dampak atau hasil dari pengobatan Romo yang ternyata sangat bermanfaat. Kerjasama dengan pihak medis dilakuakan untuk mencapai tingkat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan dalam menangani penderita. Sekaligus supaya pertentangan dan perbedaan persepsi ' dunia medis ' dan ' pengobatan alternatif ' diasimilasi saling isi mengisi dalam pengertian yang positif

Penggunaan pendulum biasanya untuk mendiagnosa suatu penyakit dan menemukan obat yang cocok dengan si penderita. Penggunaan pendulum ini sudah ada sejak jaman dahulu kala, zaman neolithikum dan zaman mesir kuno. Di Eropa sendiri penggunaan pendulum ini tidak diketahui sebelum tahun 1240 yang mana Robert Fludd menulis mengenai pendulum ini. 

Dalam bahasa Prancis, penggunaan pendulum untuk medis disebut sebagai radiesthesia. Dua pendeta dari prancis Abbes Bouley dan Mermet dan radiestet lainnya Turenne, Lesourd, dan Bovis adalah yang pertama-tama memberikan perhatian yang besar terhadap penggunaan pendulum untuk kepentingan medis. Abbe Mermet menekankan pentingnya keahlian penggunaan pendulum ini dalam bukunya yang berjudul Principle and Practice of Radiesthesia yang berisi catatan dan cerita mengenai pengalamannya selama 40 tahun menggunakan pendulum. Buku ini menjadi buku klasik pada saat itu. Hal yang menarik dalam bukunya yaitu membuat metode interpretasi penilaian radiesthesia. 

Penggunaan radiesthesia di bidang kesehatan semakin luas ( di Inggris disebut Psionic ) . Namun di sisi lain banyak pihak juga menganggap radhiestesi merupakan hal yang kontroversial dan sulit untuk dirasionalisasikan. Namun telah banyak fakta pula keberhasilan penggunaan radiesthesia ini dalam membantu mendiagnosa maupun mencari therapi/ obat yang cocok untuk suatu penyakit.

Dapat Sembuhkan Berbagai Penyakit dan Menyelesaikan Berbagai Masalah

Seorang ibu muda yang baru datang dari Kalimantan, tiba-tiba masuk dan langsung mengeluh. “Tolong Romo, anak saya sakit”, gumamnya dengan mata berkaca-kaca. Putrinya yang berumur 2 tahun hingga hari itu belum bisa bicara dan jalan. Menurut diagnosa dokter medis, otak kecilnya mengandung air, sehingga syaraf kaki dan alat bicaranya terganggu. Cairan itu tampak jelas difoto hasil rontgen. Hanya melontarkan beberapa pertanyaan, Romo Lukman, ahli pengobatan tradisional dengan teknik Medical Radiesthesi segera mendeteksi. Telapak tangannya dengan jari telunjuk dan tengah persis diarahkan ke bola mata si kecil. Ia mengirim getaran radiesthesi lewat kekuatan tenaga dalam. 

Tak lama, begitu Romo Lukman melepas tangannya, anak itu menangis dan memuntahkan seseuatu. “Tak apa-apa, itu karena dia kelebihan dosis,” gumamnya. Selanjutnya Romo Lukman memberi resep berupa ramuan jamu. 

Mengobati Penyakit Buatan 

Si kecil yang dibawa ibunya, hanya satu dari sekian pasien yang datang ke tempat praktek Romo Lukman di Purworejo. Pasien-pasiennya datang dari berbagai pelosok, bahkan dari luar negeri. Status sosial mereka juga tidak hanya dari kalangan tertentu saja. Ada yang kaya, miskin, berpendidikan, buta huruf, dsb. Keluhan mereka juga bermacam-macam, dari yang hanya keseleo sampai kanker otak. Bahkan ada pasien yang divonis tak bisa disembuhkan secara medis, datang ke tempat beliau dan sembuh.

Satu bukti, kata seorang pasien dari Kediri yang hari itu datang sebagai pasien, pamannya pernah sakit tumor paru-paru. Kata dokter tak bisa disembuhkan tanpa lewat operasi, tapi setelah dibawa ke Romo dan diberi jamu-jamuan, nyatanya sembuh. Bahkan sampai sekarang tak pernah kambuh.  “Faktor ini yang mendorong saya datang ke sini dan yakin akan sembuh. Apalagi orang2 yang datang ke sini rata2 juga pasien yang kata dokter harus dioperasi atau tidak bisa disembuhkan, tapi setelah ke sini tak jadi dioperasi dan bisa disembuhkan."

Contoh lain, keluarga Arief Budiyanto yang tinggal di Tangerang. Tadinya tak punya anak setelah sekian lama berumah tangga, akhirnya punya. Seorang anak keluarga Mugikaryono dari Yogyakarta yang lahir prematur dan lumpuh, akhirnya bisa jalan.

Bahkan dalam perjalanan praktek Romo Lukman, beliau bukan cuma menyembuhkan penyakit yang sulit disembuhkan secara medis, tapi juga penyakit perbuatan “black magic” macam santet. Romo Lukman dan anak buahnya bisa membuat penangkalnya. 

Banyak penyakit buatan manusia yang disembuhkan Romo Lukman. Akibatnya banyak pula pihak black magic tak suka Romo Lukman dan ruang prakteknya sering diserang. Untuk mengatasinya, Romo memasang alat2 penangkal berbagai macam bentuk. Ini supaya tempat praktek dan karyawannya tak ada yang sakit diserang penyakit ‘buatan’.

Masalah Duniawi 

Layar TV dan komputer yang memancarkan gelombang2 elektrostatis kuat, hingga mengganggu kesehatan mata, saraf, dll., dapat teratasi dengan memasang penangkal gelombang elektrostatis khusus. 

Rumah tinggal mungkin juga mendapat gangguan radiasi bumi atau radiasi frekuensi lain dari material bahan bangunan dan unsur2 lainnya. Juga sewaktu naik mobil, dalam kendaraan juga terdapat tekanan elektrostatis oleh getaran pemutar mesin atau pergesekan dengan udara. Ini sangat melelahkan sopir dan penumpang hingga resiko kecelakaan tinggi. Gangguan2 ini dapat dihalau dengan alat2 netralisator elektrostatis.

Kata Romo kelahiran Belanda 8 Januari 1937, mempercayai kekuatan penangkal2 itu bukan berarti menduakan kekuatan Tuhan. 

“Soalnya masalah santet, mistik atau yang lain2nya itu adalah masalah duniawi, harus dihadapi dengan cara2 duniawi pula.”  Ibaratnya, bila jantung sedang diancam pistol, ya harus dihadapi dengan benda dunia, seperti baju anti peluru misalnya. Begitu pula menghadapi santet, harus mempersiapkan penangkalnya. 

“Jadi bila ada orang bawa benda penangkal santet misalnya, itu bukan berarti musrik. Itu sama artinya seperti pasukan anti teroris pakai baju anti peluru. Kalau tak pakai anti peluru, apakah ia harus maju ke depan menyongsong peluru yang akan ditembakkan lawan ?”

Dulu, awalnya orang memandang sinis terhadap pengobatan lewat Medical Radiesthesi. Meski begitu, Romo Lukman tetap jalan. Dia yakin melangkah di jalan yang benar. Yang bikin semangatnya tak luluh, di belakangnya banyak dokter yang mendukung. 

“Saya sendiri senantiasa memperjuangkannya dengan memberi pengertian positif kepada setiap orang.” Umumnya di kalangan intelektual, medical radiesthesi dianggap negatif. Pandangan negatif bisa terjadi karena di antara pelaku pengobatan tradisional, ada yang memakai medium (yang agak) aneh. Kalau orang tak memahaminya akan dipandang negatif. Orang tak menyadari bahwa medium orang yang melakukan pengobatan tradisional memang berbeda. 

Seperti di Jawa Timur misalnya, ada dukun yang pakai medium pengobatan dengan potong kambing segala, dan Romo Lukman tak berani mengatakan orang itu ngawur. Itu karena Romo mengerti.
”Saya bisa menerimanya, sebab saya sendiri pernah mengalaminya, waktu proses pengobatan dilakukan, yang mati kambingnya, manusianya hidup.”

Medical Radiesthesi Versus Dukun

Dibanding praktek perdukunan, teknik medical radiesthesi berbeda. Medical radiesthesi tidak memakai sesajen dan mantera2; mediumnya adalah pendulum dan obatnya menggunakan jamu-jamuan. Dukun pakai “obat2an” seperti potong ayam putih tujuh ekor. Dukun juga lebih banyak pakai sarana untuk konsentrasi. Medical radiesthesi tidak. 

“Asal bisa sebut sakitnya di bagian mana, kita bisa langsung mendiagnosa dan mendeteksi penyakitnya. Dukun membutuhkan konsentrasi lebih tinggi dengan cara meditasi dan sarana macam gelas berisi air putih. Itu bedanya, kami lebih efisien.” Perbedaan itu, kata Romo karena pandangan dan leluhur berbeda. 

Bakat Paranormal

Romo Lukman menurut pengakuannya bisa mendalami medical radiesthesi karena punya bakat, leluhurnya juga memiliki gejala kepekaan terhadap dunia halus. Ia lahir dari keturunan yang punya kepekaan begitu. Saat ia berusia 6 tahun ayahnya sering pamit untuk pergi ke rumah nenek. Romo tak tahu ayahnya pergi ke sana untuk apa. Baru belakang ia tahu bahwa ayahnya ke sana untuk belajar paranormal. Belum lama ini, Romo yang sudah jadi WNI pergi ke Belanda dan baru tahu dari kakaknya bahwa neneknya punya kemampuan paranormal; dan Romo langsung menyadari “sedikit” ketularan ilmu itu. 

Tahun 1972 Romo mengembangkan kemampuan paranormalnya di Tegal. Ilmu ini cepat berkembang karena daya dukung lingkungannya memberi peluang bagus. Mulanya ia kerap diminta bantuan penduduk untuk mencari sumber air lewat medical radiesthesi. Suatu hari, di Tegal ada kenalan yang bilang bahwa bakat Romo Lukman tinggi sekali. Menurut temannya itu, Rm. Cahyo yang kini tinggal di Semarang, sebetulnya memberitahu bakat kepekaan seseorang harus memiliki kebijaksanaan. Soalnya, bisa salah, orang yang diberitahu itu bila mempelajarinya lebih jauh bisa sedikit edan karena sarafnya tak kuat mempelajarinya. Resikonya banyak. Jadi, sebelum memberitahu, lihat2 dulu, apakah ia stabil fisik-mentalnya dan berbakat atau tidak. 

Pengobatan Jarak Jauh

Teknik medical radiesthesi memang memiliki keunikan, mampu mengobati pasien dari jarak jauh. Caranya, pasien mengirimkan biodata pribadi dan keluhan penyakitnya dilengkapi dengan foto. 

Pengobatan Medical Radiesthesi

Pengobatan dengan radiesthesi sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu. Tapi kebanyakan orang telah melupakannya karena pengaruh perkembangan zaman dan penemuan2 teknologi kedokteran. Radiesthesi adalah kemampuan manusia mendeteksi dan mengukur radiasi yang dipancarkan oleh mineral, logam, tumbuh2an, hewan atau manusia dengan alat pendulum. Atau manusia dengan kemampuan radiesthesi menerima gelombang2 dari benda yang ada di luar dirinya. Sebab, menurut teorinya, tiap2 benda atau makhluk di dunia memancarkan gelombang elektromagnet. 

Menurut asal katanya, radiesthesi berasal dari kata radius (getaran) dan aisthesi (kepekaan). Jadi, radiesthesi berarti merasakan getaran2 gelombang elektromagnet negatif atau positif dari seseorang atau benda. 

Cara kerja medical radiesthesi mula2 semua organ pasien dideteksi. Bila diantara organ itu daya pancar gelombangnya kurang dari skala yang ditentukan, berarti bagian itu sakit. Kelebihannya, ia dapat mendeteksi penyakit yang secara medis sulit ditemukan lokasi dan penyebabnya. Bila orang sakit kulit, misalnya, secara medis yang dilihat hanya kulitnya saja. Tapi secara medical radiesthesi, memiliki kemungkinan menemukan latar belakang penyakit kulit itu. Menurut pengalaman, mungkin saja yang diobati bukan kulitnya dulu, tapi livernya atau ginjalnya dulu. Sering terjadi, bila sakit kulit dan diberi salep atau obat alergi, sembuhnya hanya sementara. Nanti kambuh lagi. Tapi setelah diobati livernya, penyakitnya jadi tuntas.

Di sisi lain, dengan sakit dan gejala yang sama, boleh jadi obatnya berbeda buat Polan atau Susi. Buat Polan mungkin cocok dengan antalgin, misalnya, buat Susi tidak. Faktor ini dimungkinkan karena kelemahan si Polah barangkali di liver sedangkan si Susi di paru2.

Memang, pengobatan lewat medical radiesthesi tak selalu seratus persen tokcer. Ada juga yang meleset karena konsentrasi pengobat terganggu, akibatnya apa yang dideteksi meleset. Satu lagi, sembuh tidaknya penyakit seseorang masih dipengaruhi satu faktor lagi: faktor Tuhan. Semuanya tetap kembali kepada-NYA. Manusia berusaha, Tuhan jua yang menentukan hasil akhirnya.

Kehadirannya selalu ditunggu-tunggu banyak orang. Seperti saat berlangsungnya Pekan Wira Budaya di Taman Mini Indonesia Indah tanggal 22 sampai 27 Oktober lalu. Walaupun jam praktik pengobatan alternatif yang diselenggarakan di Sasana Adi Rasa baru dimulai pukul 09.00, tetap saja mereka sudah menunggu kedatangan Romo Lukman dan para muridnya satu jam sebelumnya. 

Sebagai pengobat alternatif (orang kerap menyebut Romo sebagai paranormal, meskipun profesi/jabatan resmi Romo adalah sebagai pastor) penampilannya sangat santai, sama sekali jauh dari kesan “angker”. Pakaian praktik yang digunakan pun sederhana. Warnanya bukan hitam bukan pula putih, melainkan hijau tua bercorak bunga2 segar. Mungkin ini menandakan bahwa ia seorang pribadi yang dinamis, terbuka, dan menyukai kedamaian.

Saat si pasien mulai mengeluhkan sakitnya, Romo memperhatikan serius dengan tatapan mata yang hangat. Di mejanya hanya ada kertas dan bolpoin. Dengan bolpoin itulah ia mendeteksi penyakit pasiennya. Walau sosoknya tetap seorang Londo (orang Belanda, red.), namun cara bicaranya lebih mirip orang Jawa. Maklum, sudah 35 tahun Romo ditugaskan sebagai misionaris gereja di beberapa tempat di Jawa Tengah, seperti Purwokerto, Pekalongan, Tegal, Kebumen, serta Purworejo. 

Melacak penyakit hingga pesawat

Bukan hanya orang yang dalam kondisi sakit saja yang mendatangi Romo Lukman ke Purworejo maupun ke Bogor. Ada kalanya kasus yang disodorkan kepadanya cukup menantang, yaitu mencari lokasi pesawat yang hilang, atau mencari jenazah pendaki gunung yang tersesat. Romo Lukman tidak pergi ke lokasi, melainkan hanya memandangi peta. “Pekerjaan seperti ini bisa menghabiskan waktu 2-3 jam, dan amat melelahkan karena menguras energi yang sangat banyak,” ungkapnya. Semisal, waktu pesawat jatuh di Toli-Toli tempo hari, bangkai pesawat ditemukan hanya selisih 200 meter dari pengamatannya. 

Kali lain, Romo mendapat tugas untuk melacak sebuah pesawat yang hilang dalam penerbangan dari Sentani ke Jayapura. “Ketika itu saya mengatakan bahwa jumlah penumpang lima orang, sementara menurut catatan petugas bandara empat orang. Ternyata pengamatan saya tepat, karena sebelum pesawat mengudara, di landasan pacu naik seorang lagi dan orang itu yang kemudian diketahui sebagai pembajak,” jelasnya. 

Lalu bagaimana mengganti energi Romo yang hilang ? Romo tertawa sejenak. “Saya biasanya melindungi diri dengan alat2 magnetis. Ada yang saya taruh di badan, seperti kalung emas yang saya pakai ini yang bandulannya merupakan kumparan. Satu lagi saya taruh di kantong. Selebihnya saya istirahat tidur. Ini benar2 urusan alam, tidak ada yang aneh-aneh,” tuturnya.

Radiesthesi medic

Dalam mendiagnosa pasien, Romo menerapkan sistem radiesthesi, yaitu kepekaan untuk menangkap pancaran radiasi yang dipancarkan oleh mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia, dan lingkungan. 

Sarana utamanya adalah indera keenam (extra sensory perception) dan alat bantu yang digunakan adalah alat2 dowsing seperti tongkat peka, bolpoin, serta pendulum.

Tubuh manusia sebenarnya merupakan semacam stasiun pemancar yang memancarkan sinyal2 radiasi energi berfrekuensi tinggi dari tiap sel, jaringan, dan organ tubuh. “Interaksi antara muatan molekul elektrostatis itu dalam tubuh, barang, obat, dll., dan muatan kita sebagai pelaku radiesthesi akan memberi suatu reaksi pada saraf sensoris kita, yang melalui saraf motoris akan menghasilkan vibrasi dan kontraksi pada otot kita, sehingga bolpoin/pendulum yang kita pegang bergerak,” kata Romo. Dari gerakan pendulum kemudian bisa diketahui bagian tubuh pasien, sifat penyakit; fisik atau psikis, “Dari situ kemudian dicari jalur penanganannya bagaimana,” katanya.

Mengobati secara holistic

Dalam mengobati pasien, Romo tidak berhenti sampai pemeriksaan fisik si pasien saja, tetapi juga meneliti hal2 di sekelilingnya. Misal, bagaimana keadaan rumahnya. “Jika saya temukan bahwa rumah pasien sangat negatif, saya pelajari juga denah rumahnya. Rumahnya saya netralkan. Kemudian saya tentukan magnet jenis apa yang cocok utnuk ditaruh di rumahnya itu.” Menurutnya, gangguan yang terjadi di rumah, tidak selalu berasal dari makhluk halus, tetapi bisa juga dari struktur tanah, atau letak rumah yang kurang baik. Dan, itu membawa efek kepada penghuni rumah.

Kalau begitu holistik ? “Ya. Secara de facto saya sudah menjalankan pengobatan secara holisti. Feeling saya, kita harus menangani orang seutuh-utuhnya, ya dalam lingkungannya, ya dalam kepercayaannya. Otomatis saya merasakan itu menjadi suatu keperluan. Sistem kami memang merasakan banyak sekali hal yang tidak logis tetapi bisa dilacak sampai dapat,” katanya. 

Walaupun banyak pasien yang minta diobati, namun Romo tidak memonopoli pengobatan di tangannya. “Jika ternyata melalui sistem tersebut menunjukkan bahwa si pasien membutuhkan penanganan khusus, seperti tusuk jarum atau bantuan medis, saya akan langsung mengarahkan ia untuk berobat kepada ahlinya,” tambah Romo yang mempelajari magnetis radiesthesi ini secara otodidak itu. 

Ia menceritakan kejadian tahun 1981 di Purworejo. Seorang wanita berusia 40 tahun datang kepadanya minta diobati karena seluruh tubuhnya dirasa sakit. “Sudah saya beri jamu, tidak sembuh. Saya kasih alat netralisator (kumparan, red.), tidak mempan. Lalu saya pindah ke tingkat psikologis. 

“Lama2 saya tahu ternyata penyakitnya adalah mendendam. Lalu saya menanyakan bagaimana hubungannya dengan sang ibu. Ketika itu ia menjawab baik. Dia bilang ibunya sudah wafat. Apakah kamu mengantar jenazahnya ke pemakaman ? Kali ini dia menggeleng. Ketemu masalahnya, ternyata penyakitnya ada di dalam hatinya sendiri,” lanjut Romo yang pernah memperdalam pengolhanan spiritual selama 1 tahun di kota Berg en Dal, Belanda. Ia lalu menyuruh perempuan itu ke mesjid, mengambil wudlu, shalat sambil minta ampun kepada Tuhan. “Seminggu kemudian, ia datang kepada saya seperti menjadi orang yang baru. Jadi, saya sudah menjalankan pengobatan secara holistik, hanya pada masa itu, istilah itu belum populer.” 

‘Terdampar’ di Purworejo

Hendrikus Loogman MSC (singkatan Misionarius Sacratissimi Cordis Yesu, Misionaris Hati Kudus), setelah mendapat kewarganegaraan Indonesia di tahun 1981, dengan kesadaran sendiri mengubah namanya menjadi Handoyo Lukman MSC. Sampai sekarang ia masih aktif sebagai Pastor pembantu di Gereja Katolik Santa Maria Purworejo. 

Kedatangannya ke Indonesia tahun 1965 merupakan bagian dari tugasnya sebagai misionaris gereja. Sebagai seorang imam gereja, Romo Lukman sering ditugaskan ke desa-desa. Dengan pembawaannya yang ‘hangat’ itu ia mudah bersosialisasi dengan masyarakat kelas bawah. Apalagi dengan kelebihannya dapat mengobati orang, semakin banyak saja yang ingin ditangani langsung olehnya. Melihat bakatnya di bidang pengobatan, di samping melaksanakan tugas2 gereja, oleh atasannya ia juga diberi tugas khusus sebagai pengobat dan membuka tabir guna2. “Tetapi saya tidak mengkhususkan diri di bidang itu. Jika ada pasien yag bisa saya tolong, akan saya bantu. Yang penting tujuannya positif.”

Pernah ‘kecolongan’

Romo pernah ‘kecolongan’, sehingga harus berbaring di RS dan ‘pasrah’ menghadapi pisau bedah. Ia menertawai dirinya sendiri ketika Nirmala menanyakan kiat sehatnya. “Haha... kalau saja saya lebih mempedulikan kesehatan saya, mungkin tidak akan separah ini. Sering dalam tugas saya harus tergesa-gesa karena terlalu banyak orang yang menunggu untuk segera ditangani. Akibatnya kesehatan saya menurun.” 

Alasannya apalagi kalau bukan karena kecapaian mengurus pasien sehingga waktu istirahatnya berkurang. Mungkin juga karena terlalu banyak memprana orang .. banyak pasien belum mau pergi kalau belum diprana olehnya. Menurut pengalaman ahli jantung yang menanganinya, orang yang sering memprana orang jantungnya mudah bengkak. Akibat penyakitnya ia terpaksa membatasi diri dalam menerima pasien dan membagi ‘jatah’ dengan para asistennya. 

Setelah mendirikan Yayasan Sosial Pengobatan Alternatif di tahun 1999 dan meresmikan Rumah Pengobatan Alternatif Romo H. Lukman MSC di Jl. Jend. Sudirman no. 9, Purworejo, kini Romo bersiap-siap bergabung dengan para pengobat alternatif di RS holistik di Ganjuran atas kerja sama pihak RS Panti Rapih.



Sumber :  Majalah Nirmala no. 12/II/Desember 2000 - Kaskus